English | Bahasa Indonesia

Detail Berita

Analisa Profesor Ahli Teknik Tanah PNUP : Kelongsoran Lereng Akibat Pembangunan Jalan & Hujan Ekstrim di Sulsel

05 May 2024 - 07:08 WITA · PUBLIC RELATION · 406

Beberapa hari terakhir ini kita disuguhkan musibah banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa daerah di provinsi Sulawesi Selatan. Daerah seperti kabupaten Sidrap, Enrekang, Tana Toraja, Luwu dan Sinjai menjadi sasaran yang terkena dampak longsor dan banjir akibat hujan ekstrim. Peristiwa ini mengakibatkan sebagian daerah mengalami kelumpuhan transportasi dan kemacetan.

Prof Muhammad Suradi, salah seorang akademisi dan praktisi dengan latar belakang pendidikan sipil memberi analisanya tentang penyebab kelongsoran lereng mengakibatkan banjir yang disertai hujan ekstrim.

Pertama, faktor potensial, disebutkan bahwa lereng menjadi pemicu utama sesuai kondisi aslinya jika lereng nya tinggi, terjal, tandus dan atau kuat geser tanahnya rendah seperti tanah berbutir atau tanah kohesif seperti lempung lunak/gembur.

Lebih lanjut alumnus doktor The Univ of Western Australia ini menyebutkan faktor kedua adalah hujan ekstrim yang menyebabkan beban lereng bertambah karena infiltrasi curah hujan ke lapisan tanah permukaan lereng. Reaksi lereng tanah terhadap curah hujan berbeda antara lereng berpasir dan lereng berlempung. Lereng berpasir akan rentan longsor akibat curah hujan lebat meskipun durasinya cukup singkat. Tanah berpasir akan mudah diresapi oleh curah hujan karena memiliki pori-pori tanah relatif besar sehingga curah hujan lebat akan menyebabkan proses infiltrasi berlangsung begitu cepat hingga mencapai kondisi jenuh. 

Lebih lanjut Alumnus Magister The Univ of Aucland Australia ini berpendapat bahwa  lereng berlempung membutuhkan infiltrasi yang lama untuk mencapai kondisi jenuh karena pori-pori tanahnya yang sangat kecil. Jadi curah hujan lebat yang singkat tidak berbahaya bagi lereng berlempung karena sebagian besar menjadi limpahan air permukaan (runoff).

"Curah hujan lebat yang singkat tidak berbahaya bagi lereng berlempung karena sebagian besar menjadi limpahan air permukaan (runoff).” Ucap Alumnus Sipil Unhas Angkatan 1981 ini.


Penyebab ketiga kelongsoran lereng akan berpeluang banyak terjadi di wilayah pegunungan karena banyaknya lereng terbentuk apalagi dengan pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan yang mengganggu kestabilan lereng alaminya. Pembangunan jalan yang cukup panjang di wilayah pegunungan akan memakan biaya besar termasuk pembangunan struktur perkuatan lerengnya. 
“perlu selektif menentukan ruas jalan yang perlu diperkuat lerengnya guna mencegah pembengkakan biaya pembangunan infrastruktur”. Ujar mantan direktur PNUP ini.
Lereng sisi jalan yang kuat seperti lereng batuan atau tanah yang kuat seperti pasir padat, lempung keras atau lereng hijau dengan perkuatan vegetasi tentu tidak perlu diperkuat dengan struktur perkuatan lereng. Disamping perkuatan vegetasi, berbagai upaya perkuatan lereng lainnya yang biasa dilakukan antara lain: pembangunan tembok penahan tanah, turap, perkuatan geomembrane, soil nailing, pengendalian aliran air (drainase).
Oleh karena itu, kelongsoran lereng selama hujan ekstrim merupakan konsekuensi logis di sesi lereng yang rawan longsor dan kadangkala tidak terelakkan. Kejadian ini dapat menghambat kelancaran lalu-lintas, kerugian ekonomi bahkan kematian manusia. 

“Jadi lereng yang rawan longsor di sekitar infrastruktur seperti jalan dan pemukiman perlu upaya perkuatan agar dapat menjaga lereng tetap stabil dan tidak menimbulkan kerugian ekonomi bahkan korban kematian manusia.” Kunci Pengurus HATTI Cabang Sulsel ini