English | Bahasa Indonesia

Detail Berita

1.010 Alumni Baru PNUP Dituntut Bersaing di Era Disrupsi Teknologi

07 Oct 2019 - 09:16 WITA · HUMAS · 387

Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) melalui rapat senat terbuka luar biasa menggelar acara wisuda ke-33 tahun akademik 2019/2020 guna mewisuda 1.010 lulusan baru pada Sabtu (5/10). Wisudawan tersebut berasal dari 21 program studi yang terbagi menjadi 591 orang lulusan jenjang diploma tiga dan 419 orang lulusan jenjang sarjana terapan yang meliputi kelas regular dan kelas program pendidikan kerja sama PNUP dengan PT PLN (Persero), PT Energi Sengkang, dan kelas program studi di luar domisili. Bertempat di Baruga A. P. Pettarani Unhas, prosesi wisuda yang dirangkaikan dengan perayaan Dies Natalis ke-32 PNUP dihadiri oleh Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (Dirjen SDID) Kemenristekdikti, Gubernur Sulawesi-Selatan, para rektor dan direktur perguruan tinggi, ketua IKA PNUP, para pimpinan BUMN, dewan penyantun, serta para tamu undangan.

 “Tujuan utama dari pendidikan tinggi adalah untuk mentransformasi masyarakat menjadi sumber daya manusia yang inovatif dan adaptif. Oleh karena itu, peguruan tinggi diharapkan dapat melahirkan tenaga kerja kompeten yang siap menghadapi industri kerja yang kian berkembang seiring dengan kemajuan teknologi, keahlian kerja, kemampuan beradaptasi dan pola pikir yang semakin dinamis”, demikian dikatakan Prof. Ir. Muhammad Anshar, Ph.D., Direktur PNUP, saat menyampaikan pidato di hadapan wisudawan.

 

Oleh karena itu, sebagai pendidikan yang berbasis vokasi atau keahlian terapan, saat ini sebanyak 25 program studi yang terbagi di enam jurusan yang dikelola PNUP, semuanya diarahkan kepada relevansi dengan kebutuhan industri ataupun sektor riil lainnya termasuk fokus industri untuk revolusi industri 4.0 sehingga lulusan yang diwisuda selalu bersifat siap pakai dan bisa segera diserap dunia kerja. Peran PNUP sebagai pendidikan tinggi berorientasi keterampilan atau vokasi menjadi penting dan strategis untuk mendorong terjadinya optimalisasi pendayagunaan segala potensi sumber daya di Indonesia.

 

Di kesempatan yang sama, Gubernur Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Ir. H. M.  Nurdin Abdulah, M. Agr., dalam orasi ilmiahnya menyampaikan bahwa menghadapi revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan persaingan ketat dan arus informasi yang pesat pada semua sektor, Indonesia dituntut memiliki daya saing yang kuat agar mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara lain. Inovasi merupakan kunci dalam peningkatan produktifitas berkelanjutan, yang pada akhirnya dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. Revolusi industri 4.0 membutuhkan mahasiswa adaptif dan inovatif, untuk beradaptasi dalam menghadapi tantangan global, terutama terhadap kemungkinan teknologi seperti robot dan atau mesin yang menggantikan pekerjaan lulusan perguruan tinggi, termasuk lulusan politeknik.

Sementara itu, Dirjen SDID Kemenristekdikti, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D., dalam orasi ilmiahnya menyampaikan bahwa perguruan tinggi harus bersiap diri dalam rangka menyongsong revolusi industri 4.0. Kemajuan di era globalisasi sudah tidak dapat terbendung di Indonesia karena perkembangan teknologi yang semakin canggih pada era revolusi industri 4.0, dimana menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya yang semakin memacu dan meningkatkan persaingan secara positif bagi perguruan tinggi. Pendidikan vokasi diyakini dapat meningkatkan daya saing masyarakat Indonesia di dunia kerja. Jika pendidikan di universitas melahirkan akademisi berijazah, maka pendidikan vokasi melahirkan tenaga terampil bersertifikat yang sudah tentu juga memiliki ijazah. Hal inilah yang menjadi nilai tambah yang dibutuhkan oleh industri. Pendidikan vokasi seperti politeknik tidak hanya memberikan ijazah tetapi juga sertifikat kompetensi yang dikeluarkan dari lembaga kredibel. Dari 1.010 lulusan PNUP yang diwisuda, terdapat 21 wisudawan terbaik dari setiap program studi dengan nilai rata-rata komulatif sebesar 3,8.

 


@poltek_upg