English | Bahasa Indonesia

Detail Berita

Mahasiswa KKN-P PNUP Hasilkan 15 Produk Nyata, Terapkan Relevansi Keilmuan dengan Kebutuhan Masyarakat

20 Jul 2026 - 12:48 WITA · 20 Jul 2026 - 14:16 WITA · PUBLIC RELATION · 78

(HumasPNUP) — Sebanyak 82 mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Kimia Industri (TKI) Jurusan Teknik Kimia (JTK) Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) angkatan ke-4 yang tersebar di enam kabupaten/kota di Sulawesi Selatan berhasil melaksanakan program kerja nyata yang bermanfaat bagi masyarakat di Kabupaten Sinjai, Bone, Gowa, Bulukumba, Enrekang, dan Luwu Timur.
Kuliah Kerja Nyata-Profesi (KKN-P) yang berlangsung mulai 14–31 Juli 2026 ini menghadirkan penyuluhan serta demonstrasi pembuatan produk-produk berbasis keilmuan Teknik Kimia kepada masyarakat setempat, yang terbagi dalam 15 kelompok.
Ketua Jurusan Teknik Kimia (JTK) PNUP, Wahyu Budi Utomo, HND., M.Sc., berharap program kerja yang dilaksanakan mahasiswa KKN-P kali ini dapat menerapkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah serta menerapkannya di lokasi KKN-P berdasarkan relevansi keilmuan masing-masing.
“Mahasiswa KKN-P dapat membuat produk yang relevan dengan keilmuannya,” ujarnya, Senin, 20 Juli 2026.
Masing-masing kelompok didampingi oleh seorang dosen pendamping selama pelaksanaan KKN-P. Dosen pendamping kegiatan sekaligus Koordinator Program Studi (KoPS) TKI, Dr. Fajriyati Mas'ud, S.T.P., M.Si., menyampaikan hal senada.
“Selain menjalankan program kerja utama, mahasiswa peserta KKN turut membawa brosur program studi untuk dibagikan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya promosi Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Kimia Industri PNUP di wilayah pelaksanaan KKN,” ujar Dr. Fajriyati.
Program kerja setiap kelompok difokuskan pada pengolahan bahan alam dan pemanfaatan limbah rumah tangga maupun pertanian menjadi produk yang bernilai guna, mulai dari sabun, pupuk organik cair (POC), pestisida alami, Virgin Coconut Oil (VCO), briket, teh herbal, hingga lilin aromaterapi. Adapun ke-15 kelompok KKN-P dengan program kerja masing-masing adalah sebagai berikut:
Kelompok 1: mengembangkan sabun ekstrak daun pandan beraroma jeruk nipis dan pestisida dari kulit bawang.
Kelompok 2: mengembangkan pupuk organik cair (POC) dari limbah air tahu dan pestisida dari daun pepaya.
Kelompok 3: mengembangkan Virgin Coconut Oil (VCO) dan POC.
Kelompok 4: mengembangkan sabun cuci tangan dari ekstrak kulit jeruk, adsorben dari ampas kopi dan kulit jeruk, serta bibit parfum dari kulit jeruk.
Kelompok 5: mengembangkan briket dari limbah tongkol jagung dan spray pengusir serangga alami dari serai serta jeruk nipis.
Kelompok 6: mengembangkan VCO, spray anti nyamuk dari serai, dan nugget dari kulit pisang.
Kelompok 7: mengembangkan VCO, sabun cuci piring beraroma jeruk nipis dan daun pandan, serta pestisida organik cair dari air rendaman beras dan kulit bawang merah.
Kelompok 8: mengembangkan teh dari kulit pisang dan briket arang dari sekam padi.
Kelompok 9: mengembangkan teh rimpang dan jahe, serta bubuk aren dari jahe dan sereh.
Kelompok 10: mengembangkan sabun cair dari minyak jelantah dan spray anti nyamuk dari sereh.
Kelompok 11: mengembangkan pestisida alami dari daun gamal dan lilin aromaterapi dari minyak jelantah.
Kelompok 12: mengembangkan VCO dari daging kelapa segar dan PESTA (pestisida organik ramah lingkungan) dari daun asam jawa.
Kelompok 13: mengembangkan POC dari batang pisang dan briket dari ampas kopi.
Kelompok 14: mengembangkan pestisida alami dari bawang putih dan pembuatan kompos melalui lubang biopori.
Kelompok 15: mengembangkan pestisida alami dari daun pepaya dan briket dari tongkol jagung.


@poltek_upg