English | Bahasa Indonesia

Detail Berita

Lima Inovasi Perguruan Tinggi Vokasi Sultanbatara Perkuat Ekonomi Berbasis Potensi Daerah

10 Nov 2025 - 09:11 WITA · 04 Dec 2025 - 09:45 WITA · PUBLIC RELATION · 623

(HumasPNUP) – Kreativitas dan inovasi akademisi perguruan tinggi vokasi (PTV) di wilayah Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara (Sultanbatara) kembali menunjukkan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi masyarakat. Lima karya inovatif yang berbasis potensi lokal dipamerkan dalam ajang Sinergi Membangun Ekosistem Strategis Terpadu dan Adaptif (SEMESTA) Panen Raya Berdikari di Mall Phinisi Point (Mall Pipo), Kota Makassar, Sabtu (8/11/2025).

Kegiatan yang difasilitasi oleh Politeknik Bosowa (Poltekbos) ini menjadi wadah promosi sains dan teknologi yang langsung menyentuh kebutuhan riil masyarakat, mulai dari nelayan, petani, petambak, hingga pengrajin batik. Yang menarik, sebagian besar inovasi memanfaatkan limbah dan mengubahnya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

 

1. Solar Cell Freezer Box Terapung: Revolusi Penyimpanan Ikan Nelayan Mamuju

Dewi Andriani dari Politeknik Bosowa menciptakan terobosan bagi nelayan Orobatu, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, melalui Solar Cell Freezer Box Terapung. Alat penyimpan ikan beku berbasis energi surya ini dirancang khusus untuk mengapung di laut atau di atas kapal nelayan.

"Selama ini nelayan hanya mengandalkan es balok di styrofoam dengan daya tahan empat hingga lima hari. Dengan alat ini, ikan bisa langsung dibekukan di laut sehingga kesegaran terjaga hingga sampai ke pasar," jelas Dewi Andriani dalam sesi media gathering.

Meski demikian, tantangan seperti cuaca hujan dan keamanan alat masih menjadi perhatian. "Kadang alat harus dibongkar pasang kalau ditinggal di tepi laut untuk menjaga keamanannya," tambahnya.

2. ZAPA Emas: Pewarna Alami Batik Sutera dari Limbah Pertanian

Dr. Zulfitriany D. Mustaka dari Politeknik Pertanian Negeri Pangkep (Polipangkep) menghadirkan solusi bagi pengrajin batik sutera yang kesulitan mengikuti festival internasional karena persyaratan pewarnaan alami. ZAPA Emas merupakan pewarna batik berbahan limbah pertanian yang efektif dan efisien.

"Biasanya pengrajin membutuhkan 20 kali pencelupan agar warna kuat. Dengan ZAPA Emas, cukup tiga kali pencelupan sudah menghasilkan warna maksimal," ungkap Zulfitriany.

Bahan baku yang digunakan mudah ditemukan di sekitar, seperti sabut kelapa, biji alpukat, kayu secang, kulit rambutan, hingga kulit manggis. Inovasi ini telah diuji coba dan diterapkan di Kabupaten Sinjai dengan hasil yang memuaskan.

3. Biochar dan Briket Arang: Solusi Energi Ramah Lingkungan dari Tempurung Kelapa

Dr. Baso Nasrullah dari Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) mengembangkan teknologi pengolahan limbah tempurung kelapa menjadi Biochar dan Briket Arang Ramah Lingkungan. Inovasi ini ditargetkan untuk skala UMKM dengan modal terjangkau.

"Kami kembangkan teknologi ini agar UMKM bisa memiliki mesin sederhana untuk produksi briket dengan modal kecil," ujar Dr. Baso Nasrullah.

Teknologi yang dikembangkan meliputi mesin pengayak, mixer, blending, forming, hingga pengering. Produk ini telah diminati industri di Kabupaten Pinrang dan siap diekspor ke Turki pada bulan November ini. "Hasil uji laboratorium sudah sesuai spesifikasi mitra," tambahnya.

4. Penebar Pakan Otomatis: Teknologi IoT untuk Efisiensi Tambak

PNUP juga menghadirkan inovasi Penebar Pakan Otomatis yang dilengkapi sistem pemantauan kualitas dan ketinggian air tambak. Teknologi berbasis Internet of Things (IoT) dan energi surya ini dikembangkan untuk membantu petambak ikan di Pangkep meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus mengurangi biaya operasional.

5. EcoFeed Amino: Transformasi Limbah Kulit Sapi Jadi Pakan Ikan Berkualitas

Abdul Majid dari Politeknik Bombana berhasil mengubah limbah kulit sapi dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) menjadi EcoFeed Amino, bahan pakan ikan dan udang bernilai tinggi. Inovasi ini menjawab kebutuhan pembudidaya di Bombana yang masih bergantung pada pakan alami dengan produksi tidak stabil.

"Kami mengolah kulit sapi yang terbuang di RPH menjadi asam amino berkadar tinggi dan memformulasikannya ke dalam pakan ikan serta udang," kata Abdul Majid.
Hasil uji coba menunjukkan kadar substitusi 30 persen justru menghasilkan pertumbuhan udang yang lebih optimal.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Metalurgi Universitas Hasanuddin (In Saintek) turut berpartisipasi dengan fokus pada edukasi dan literasi bidang metalurgi kepada siswa SMA dan pengrajin logam.

Kepala Pusat, Lukmanul Hakim Arma, menjelaskan bahwa pihaknya berupaya mengintegrasikan bidang metalurgi ke dalam pembelajaran siswa SMA. "Melalui FGD, kami menemukan banyak bahan ajar siswa SMA yang berkaitan erat dengan bidang metalurgi. Kami telah melakukan integrasi pembelajaran di beberapa SMA," ujarnya.
Selain menyasar siswa, unit ini juga memberikan edukasi dan literasi kepada para perajin logam untuk meningkatkan kualitas produksi mereka.


@poltek_upg