Penerapan Teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB) sebagai Upaya Pengendalian Banjir di Kawasan Kota Pare-Pare
(HumasPNUP) - Dalam rangka pengabdian kepada masyarakat serta sebagai kontribusi terhadap upaya pengurangan risiko banjir perkotaan, tim dosen dari Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Ujung Pandang melaksanakan kegiatan penerapan Teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB) di Masjid Terapung B.J. Habibie, Kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan.
Kegiatan ini dipimpin oleh tim yang terdiri dari:
- Dr. Muh. Taufik Iqbal, S.T., M.T. (NIDN 0021107702) - Ketua Tim
- Dr. Andi Muh. Subhan Saiby, S.T., M.T. (NIDN 0030056702)
- Herman Arruan, S.T., M.T. (NIDN 0025017103)
- Indra Mutiara, S.T., M.T. (NIDN 0011038105)
- Dr. Muhammad Rifaldi Mustamin, S.Tr.T., M.T. (NIDN 0007099801)
- Rut Handayani, S.ST., M.T. (NIDN 0928059502)
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan mengimplementasikan teknologi resapan air berbasis komunitas guna mengatasi permasalahan limpasan permukaan yang rawan terjadi di area pesisir dan fasilitas publik. Pemilihan lokasi di Masjid Terapung B.J. Habibie didasari pertimbangan signifikansi lingkungan, aksesibilitas publik, serta nilai simbolis sebagai ikon Kota Pare-Pare.
Teknologi LRB yang diterapkan memanfaatkan lubang vertikal berisi sampah organik untuk meningkatkan daya serap air tanah, mengurangi risiko genangan saat hujan lebat, serta mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi air di lingkungan sekitar.
Program ini meliputi beberapa tahap pelaksanaan:
- Edukasi dan Sosialisasi - Pengenalan teknologi LRB kepada masyarakat dan pengurus masjid
- Pelatihan Praktis - Workshop pembuatan LRB bagi peserta
- Implementasi Lapangan - Penerapan langsung di area sekitar masjid
Keterlibatan aktif komunitas sekitar masjid menjadi elemen kunci dalam mendukung keberhasilan dan keberlanjutan program ini.
"Masjid Terapung bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang edukasi lingkungan yang strategis bagi masyarakat pesisir. Melalui penerapan LRB, kami berharap tercipta sinergi antara nilai spiritual dan tanggung jawab ekologis," ujar Dr. Muh. Taufik Iqbal, ketua tim pelaksana.
Inisiatif ini diharapkan menjadi model penerapan teknologi tepat guna berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkuat kesadaran kolektif terhadap pentingnya adaptasi perubahan iklim di kawasan pesisir.












