BERITA SEPUTAR POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG

Kuliah Umum Itjen Kemenristekdikti di PNUP
Diposting: Jumat, 23 Sep 2016

Inspektur Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Itjen Kemenristekdikti), Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S. H., M. Hum., bersama tim melakukan kunjungan ke Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) dalam rangka kegiatan kuliah umum  pada Kamis, 22 September 2016. Kuliah umum yang bertema “Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan Tantangan Dunia Pendidikan”,  diikuti oleh Direktur PNUP, Dr. Ir. Hamzah Yusuf, M. S.,  beserta segenap jajaran pejabat PNUP seperti para Wakil Direktur, para Ketua dan Sekretaris Jurusan, para Ketua Program Studi, para Kepala Bagian, Kepala Subbagian, Kepala UPT, Unit , dan Kepala Urusan, serta perwakilan mahasiswa dari semua lembaga kemahasiswaan PNUP.

Dalam sambutannya, Direktur PNUP, Dr, Ir. Hamzah Yusuf, M. S., mengatakan bahwa menjadi suatu penghargaan tersendiri atas kesediaan Itjen Kemenristekdikti yang rela meluangkan waktu ke PNUP guna memberikan kuliah umum.  Direktur PNUP berharap agar kuliah umum dengan tema yang sangat sejalan dengan kondisi yang tengah terjadi sejak pemberlakuan MEA pada 1 Januari lalu mampu memberikan wawasan baru dan inspirasi kepada segenap sivitas akademika PNUP untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan vokasi yang diemban PNUP agar mampu bersaing di era MEA.

Itjen Kemenristekdikti, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S. H., M. Hum., dalam uraian kuliah umumnya memaparkan bahwa konsep MEA yang telah digagas sejak tahun 1998 lalu merupakan ajang kompetisi Sumber Daya Manusia (SDM) antara negara-negara anggota Asean dari segi keahlian, keterampilan, dan kemampuan tenaga kerja.  Salah satu konsekuensi yang tidak dapat dihindari dari pemberlakuan MEA adalah adanya arus bebas tenaga kerja yang dapat masuk dan keluar dari Indonesia. Jauh sebelum pemberlakuan MEA, kecenderungan masuknya tenaga kerja asing profesional semakin meningkat sementara jumlah tenaga kerja profesional Indonesia yang bekerja di luar negeri tidak menunjukkan jumlah yang signifikan. Selama ini, Indonesia hanya dikenal mampu memasok tenaga kerja ke luar negeri untuk pekerjaan dengan level bawah.  Berdasarkan kenyataan itulah menurut Itjen Kemenristekdikti, pemberlakuan MEA memaksa semua kalangan termasuk perguruan tinggi untuk lebih mampu menghasilkan lulusan yang profesional dengan keahlian yang tersertifikasi.

Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan tinggi, persaingan MEA menuntut perguruan tinggi untuk melakukan implikasi internasionalisasi perguruan tinggi, kompetisi global, kolaborasi global, dan pengakuan komunitas global termasuk bagi PNUP sebagai salah satu pendidikan yang berbasis vokasi atau keahlian terapan. Perguraun tinggi yang berbasis vokasi dianggap mampu menghasilkan lulusan yang siap berkompetisi di era MEA karena selama perkuliahan para mahasiswa mendapatkan 70% praktik dan 30% teori. Dengan modal praktik yang lebih besar, tentunya lulusan perguruan tinggi vokasi  tidak perlu merasa canggung lagi untuk berkompetisi dalam persaingan MEA apalagi jika disertai dengan standardisasi kompetensi lulusan yang memperlihatkan berbagai soft skill dan hard skill.

Menutup kuliah umum yang berlangsung selama kurang lebih 120 menit, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, S. H., M. Hum.,  menyampaikan bahwa peranan perguruan tinggi sangat besar dalam membentuk soft skill dan hard skill  para mahasiswa untuk siap bersaing di era MEA.  Untuk itu, dia berpesan agar PNUP meningkatkan lima hal penting untuk mengahadapi era kompetisi MEA yaitu efektivitas, etos kerja, daya saing, pelayanan publik, serta deregulasi. Di kesempatan yang sama , Itjen Kemenristekdikti juga mengarahkan agar seluruh pemangku dan pembuat kebijakan di PNUP dapat mengoptimalkan penggunaan anggaran untuk mendukung proses akademik sesuai dengan aturan yang berlaku.

 

 

0 Komentar
Tidak ada komentar untuk berita ini.
Leave a Reply
  • Name
  • Email
  • Messege
  • 500 Characters remaining.

  •  
  • Likes Us On